Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Maret 2013

Bicara Tentang Lambang Dunia Kedokteran

Kali ini aku mau sedikit share tentang sejarah suatu lambang, tepatnya lambang dunia kedokteran. Mungkin sebagian dari temen-teman udah tau kalau lambang dunia kedokteran itu tongkat yang dililiti ular. Nah sebenarnya apa makna dari lambang itu? Bagaimana Sejarahnya??  CTO !


Dipakainya tongkat dan ular sebagai lambang dunia kedokteran bermula dari mitologi Yunani. Dikisahkan Dewa Aesculapius yang merupakan putra dari Apollo, selalu membawa sebatang tongkat dengan ular melingkar di atasnya. Aesculapius adalah seorang dukun yang pandai mengobati. Ia dianggap penyebab menurunnya jumlah manusia di Hades, yang merupakan tempat orang mati. Orang Yunani menganggap ular itu sebagai simbol kekuatan penyembuh. Simbol ular dan tongkat itu namanya Caduceus (bahasa latin : kurir). Asosiasi kedokteran Amerika pada tahun 1910 menggunakan simbol ular dan tongkat tersebut sebagai simbol obat/pengobatan sampai sekarang. Dewa Romawi, Merkurius, juga selalu membawa tongkat berlilitkan ular. namun, tongkatnya dihiasi sepasang sayap. Merkurius adalah pembawa pesan (kurir) antar dewa. Ia juga dewa perjalanan. Konon, ular di tongkatnya untukmelindunginya di perjalanan. 

Rabu, 26 Desember 2012

Pidato Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di depan rumah Ir. Soekarno, yaitu di Jalan Pegangsaan Timur No.56 Jakarta, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB. 

Sebelum membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan, beginilah isinya :

Saudara-saudara sekalian, saya telah meminta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak ada henti-hentinya. 

Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakikatnya kita tetap menyusun tenaga kita sendiri, tetapi kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib Tanah Air kita dalam tangan kita sendiri. 

hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia. Permusyawaratan itu telah seiya sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang waktunya untuk menyatakan kemerdekaan kita. Saudara-saudara, dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. 

Dengarlah Proklamasi kami : 

Proklamasi 

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. 
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

  Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun '45 
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno - Hatta 

Demikianlah saudara-saudara kita, kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat Tanah Air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara merdeka negara Republik Indonesia merdeka, kekal dan abadi, Insya Allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.


Minggu, 04 November 2012

Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok punya kaitan erat dengan peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 di Indonesia, seperti apa ceritanya?

Pada tanggal 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.30 malam, utusan pemuda yang terdiri atas Wikana dan Darwis menghadap Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No.56 , Jakarta. Wikana menyampaikan tuntutan agar Bung Karno mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia esok hari, yaitu pada tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno menolak tuntutan itu karena beliau tidak mau meninggalkan anggota PPKI (Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia) lainnya. Apalagi anggota PPKI sudah diundang untuk bersidang.

Mendengar penolakan Bung Karno, Wikana mengancam bahwa esok hari akan terjadi pertumpahan darah yang dahsyat dan pebunuhan besar-besaran. Terjadi ketegangan antara kaum pemuda dengan Bung Karno, yang disaksikan oleh Bung Hatta, Mr.Ahmad Subardjo, Dr.Buntara, dan Mr.Iwa Kusumasumantri. 

Pada tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa oleh sekelompok pemuda ke Rengasdengklok, yakni sebuah tempat di sebelah timur kota Jakarta. Apa Tujuannya? Yakni agar Bung Karno dan Bung Hatta mau mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya. 

Sementara itu, di Jakarta tercapai kesepakatan antara Mr.Ahmad Subardjo dari golongan tua dengan Wikana dan Yusuf Kunto dari golongan muda untuk kembali membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Jakarta. Pada hari Kamis tanggal 16 Agustus 1945 pukul 16.00 sore, Mr. Ahmad Subardjo dengan diantar oleh Yusuf Kunto menuju ke Rengasdengklok untuk menjemput kembali Bung Karno dan Bung Hatta. Pada tanggal 16 Agustus 1945 sekitar pukul 21.00 rombongan meninggalkan Rengasdengklok dan kembali ke Jakarta. Sekitar pukul 23.00 , rombongan tiba di rumah Bung Karno untuk menurunkan Ibu Fatmawati (Isteri Bung Karno), yang ikut dibawa ke Rengasdengklok. 

Pada malam itu juga, sekitar pukul 02.00 pagi, Bung karno memimpin rapat di rumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta. Rapat itu terutama membicarakan persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia.


Nah itu tadi sekilas cerita tentang Peristiwa Rengasdengklok, maaf maaf nih ye kalo ceritanya kurang panjang, kepanjangan, kurang pendek, kependekan, atau kurang lengkap #laugh . Seenggaknya bisa jadi tambahan ilmu buat kitakita :D, ingat selalu JAS MERAH (sesuai pesan Bung Karno).